PATI, POLITICAL WAR, DAN TANDA-TANDA PERGESERAN BASIS POLITIK

Oleh : ARISTARKHUS UMBAR KRISTIANTO

News, Opini109 Dilihat
Views: 311
0 0
banner 468x60
Read Time:2 Minute, 21 Second

MokiNews.com, Pati-Pergolakan politik di Pati dalam beberapa waktu terakhir tidak bisa dibaca secara dangkal sebagai reaksi spontan masyarakat terhadap kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB-P2). Jika ditelusuri lebih dalam, dinamika yang terjadi justru menunjukkan pola konflik yang sistematis, terstruktur, dan sarat kepentingan politik jangka panjang.

Kenaikan PBB-P2 sendiri bukan fenomena unik. Sejumlah daerah lain juga melakukan penyesuaian pajak dengan angka yang bahkan lebih tinggi. Namun, di daerah-daerah tersebut tidak terjadi gejolak politik yang signifikan. Ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa Pati justru menjadi titik panas?

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
banner 336x280

Jawabannya kemungkinan tidak terletak pada pajak, tetapi pada peta kekuatan politik lokal. Pati selama ini dikenal sebagai basis kuat partai tertentu. Basis politik seperti ini, dalam logika kontestasi kekuasaan, bukan sekadar wilayah administratif, melainkan “kandang” yang harus direbut jika ingin mengubah keseimbangan politik nasional.

Di sinilah dugaan skenario political war menjadi relevan. Dalam strategi politik modern, menghancurkan lawan tidak selalu dilakukan melalui serangan frontal dari luar. Justru yang lebih efektif adalah menggunakan konflik internal, ketidakpuasan publik, dan tekanan kelembagaan sebagai alat untuk melemahkan basis lawan dari dalam.

Figur bupati menjadi sasaran langsung. Isu pajak dijadikan pintu masuk untuk membangun persepsi negatif. Tekanan politik kemudian meningkat melalui hak angket. Namun hasilnya tidak sesuai ekspektasi pihak yang menginginkan pelengseran. Pemerintahan tidak dijatuhkan, melainkan hanya direkomendasikan untuk diperbaiki.

Di titik inilah strategi berubah arah. Ketika target utama tidak tercapai, serangan beralih ke lembaga legislatif. DPRD yang sebelumnya menjadi instrumen tekanan justru menjadi sasaran kritik berikutnya. Efeknya, publik melihat konflik internal yang berlarut-larut, bukan solusi.

Situasi seperti ini sangat berbahaya bagi partai yang selama ini menjadi kekuatan dominan. Basis massa yang melihat konflik tanpa akhir cenderung kehilangan kepercayaan. Dalam politik, kepercayaan adalah mata uang utama. Ketika kepercayaan runtuh, loyalitas pemilih ikut bergeser.

Tanda-tanda realignment mulai terlihat. Simpatisan yang sebelumnya solid mulai mencari alternatif. Dalam kondisi seperti ini, partai yang sebelumnya kecil atau kurang signifikan bisa tiba-tiba mendapatkan momentum. Politik tidak selalu bergerak secara linear; sering kali ia meloncat mengikuti celah krisis.

Contoh yang patut diperhatikan adalah potensi menguatnya . Pada pemilu sebelumnya, partai ini belum menjadi kekuatan dominan di banyak daerah. Namun dalam situasi krisis kepercayaan terhadap partai lama, ruang politik baru bisa terbuka lebar.

Jika tren ini berlanjut, Pemilu 2029 bisa menjadi titik balik politik di Pati. Wilayah yang selama ini dianggap basis kuat satu partai dapat berubah menjadi arena persaingan terbuka. Partai lama kehilangan dominasi, sementara partai baru mengisi kekosongan kepercayaan.

Inilah esensi political war: bukan sekadar menjatuhkan individu, tetapi menggerus basis kekuatan lawan hingga kehilangan legitimasi. Ketika kandang politik sudah retak dari dalam, lawan tidak perlu menyerang dari luar. Kekalahan akan datang dengan sendirinya.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi siapa yang benar dalam konflik pajak, melainkan siapa yang paling diuntungkan dari kekacauan politik yang terjadi. Karena dalam politik, setiap konflik hampir selalu memiliki arsitek, tujuan, dan pemenang yang menunggu di ujung cerita.

Happy
Happy
0
Sad
Sad
0
Excited
Excited
0
Sleepy
Sleepy
0
Angry
Angry
0
Surprise
Surprise
0
banner 336x280
google.com, pub-1624475377454066, DIRECT, f08c47fec0942fa0