MokiNews.com, Sumenep – Festival Desa Wisata Madura 2025 kembali digelar. Panggung besar disiapkan, baleho dipasang, para tamu undangan berdatangan.
Tapi satu pertanyaan mendasar menggelayut di benak publik: potensi desa apa yang sebenarnya mau ditampilkan ke publik?
Boro-boro bicara potensi, nama-nama desa saja masih asing di telinga masyarakat.
Kenapa ini bisa terjadi?
Jawabannya sederhana tapi menyakitkan: banyak pemangku desa yang tidak elastis, tidak adaptif, dan enggan mengikuti perkembangan zaman.
Di era digital yang serba cepat ini, informasi tentang desa masih sulit diakses, seolah desa adalah entitas yang tertutup dari dunia luar.
Padahal, sejak Oktober 2021, sudah diumumkan peluncuran Digdaya SID — singkatan dari Data Integrasi Desa Berdaya – Sistem Informasi Desa. Sebuah sistem yang katanya dirancang untuk mengelola beragam data desa, mulai dari:
Potensi dan Geografis Desa,
Data Kependudukan,
Anggaran dan Infrastruktur,
Layanan dan Administrasi,
Hingga Budaya Lokal.
Sebuah gagasan besar yang idealnya mendorong terwujudnya smart village dan menjadi bagian dari pembangunan smart city.
Tapi sayangnya, sampai hari ini, Digdaya SID baru sebatas jargon digital yang minim jejak di dunia nyata.
Alih-alih menjadi alat transparansi dan percepatan pelayanan, SID justru seperti “catok kepak” — tampak gemerlap tapi tanpa daya dorong.
Tak ada data desa yang terbuka, tak ada informasi layanan yang mudah diakses, bahkan profil desa pun sering kali tak tersedia saat dicari publik.
Festival Desa Wisata mestinya bukan sekadar ajang seremonial. Harusnya jadi momentum untuk membuka tabir dan menunjukkan wajah asli desa-desa kita yang kaya sejarah, budaya, dan kekuatan ekonomi lokal.
Tapi untuk bisa sampai ke sana, desa harus terlebih dulu hadir dalam dunia digital, transparan, dan terbuka.
Tanpa itu semua, Festival ini hanya akan menjadi panggung kosong yang kehilangan makna — ramai di luar, tapi sunyi di dalam.
(Min)
















Komentar