Mendunia Siswa dan Guru SMA Negeri 3 Sumenep Pelatihan di Jepang

News, Pendidikan66 Dilihat
Views: 200
0 0
banner 468x60
Read Time:2 Minute, 25 Second

MokiNews.com, SUMENEP — Semangat pelestarian lingkungan mengantarkan siswa dan guru dari SMA Negeri 3 Sumenep, Madura menjadi wakil Jawa Timur dalam program pertukaran pelajar bertema lingkungan di Jepang.

Kegiatan bertajuk *Indonesia-Japan Youth Green Exchange* itu merupakan bagian dari program OISCA, organisasi nonpemerintah asal Jepang yang bergerak di bidang pelestarian alam dan kehutanan.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
banner 336x280

Agus Adib Fahrudin perwakilan guru SMA Negeri 3 Sumenep menjelaskan, sekolahnya telah aktif mengikuti *Children Forest Program* (CFP) sejak 2016. Program tersebut mendorong keterlibatan siswa dalam kegiatan penghijauan dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Karena sejak awal aktif dan konsisten menjalankan program CFP, tahun ini kami mendapat undangan mengikuti pelatihan lingkungan di Jepang,” ujarnya.

Selama delapan hari di Jepang, peserta memperoleh pelatihan mengenai pengelolaan sampah dan kehutanan. Kegiatan itu didukung organisasi kehutanan Jepang, NALAPO.

Dari Indonesia, sebanyak 15 peserta diberangkatkan, terdiri atas delapan siswa, lima guru, dan dua pengurus OISCA. Mereka berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

“Khusus dari Jawa Timur, hanya ada dua sekolah dari Sumenep yang ikut, yakni SMA Negeri 3 Sumenep dan SMA Gapura,” katanya. Senin, (18/5/26)

Menurutnya, selama berada di Jepang, rombongan mengunjungi sejumlah pusat pengelolaan lingkungan, mulai dari fasilitas pengolahan sampah di Kota Toyota hingga kawasan hutan wisata di Prefektur Nagano, seperti Akazawa dan Marinos. Mereka juga mengunjungi Bendungan Makiyo serta Kantor Kota Kiso.

Namun, inti kegiatan bukan sekadar kunjungan lapangan. Para siswa juga melakukan pertukaran pengetahuan dan budaya dengan pelajar Jepang.

Di hadapan siswa dan mahasiswa kehutanan di Nagano, para peserta dari Madura mempresentasikan program penghijauan yang dijalankan di sekolah mereka. Budaya Madura turut diperkenalkan melalui penampilan seni dan tarian khas Sumenep.

“Anak-anak mempresentasikan program penghijauan di Madura sekaligus mengenalkan budaya daerah kepada siswa di Jepang,” ujarnya.

Sepulang dari Jepang, para peserta tidak berhenti pada pengalaman belajar semata. Mereka diminta menyusun dan menjalankan action plan di sekolah masing-masing, terutama terkait penghijauan dan pengelolaan sampah.

Menurutnya, SMA Negeri 3 Sumenep akan memperkuat gerakan penghijauan di sekitar sekolah dan kawasan yang masih gersang. Selain itu, sekolah juga akan mengembangkan sistem pengelolaan sampah berbasis reduce, reuse,  dan recycle.

“Pengurangan sampah plastik sebenarnya sudah berjalan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana sampah itu bisa dimanfaatkan kembali atau didaur ulang menjadi sesuatu yang berguna,” katanya.

Program tersebut dinilai selaras dengan gerakan zero plastic yang tengah didorong Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.

Sementara Kepala Sekolah SMAN 3 Sumenep RA. Hari Utami Dewi, S.Ag., M.Pd sangat bangga, dari penghargaan ini sekolah kami dilihat karena sekolah kami istikoma dari awal bekerja sama dengan OSCA, dengan berkesinambungan melestarikan penghijauan disekolah melalui pengalaman di Jepang, para siswa diharapkan tidak hanya membawa pengetahuan baru, tetapi juga semangat untuk membangun budaya peduli lingkungan di sekolah maupun masyarakat sekitar.

“Program SIKAP (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan) SMAGA ada 3 : Pertanian (Timun, terong, lombok, tomat, pisang, pepaya, buah kelengkeng, rambutan, mangga) Perikanan (Lele) , dan Peternakan ( ayam kampung).
Hutan mini tanaman jati sekitar area kebun pertanian. Ruang terbuka hijau 60 ℅ dari bangunan sekolah,”tutupnya.(Min)

Happy
Happy
0
Sad
Sad
0
Excited
Excited
0
Sleepy
Sleepy
0
Angry
Angry
0
Surprise
Surprise
0
banner 336x280
google.com, pub-1624475377454066, DIRECT, f08c47fec0942fa0