Hari Jadi Pati ke-702: Merayakan Sejarah dan Budaya melalui Parang Garudo

Dalam Negeri, News406 Dilihat
Views: 890
0 0
banner 468x60
Read Time:1 Minute, 52 Second

MokiNews.com, Pati – Peringatan Hari Jadi Kabupaten Pati ke-702 tahun ini diwarnai dengan semaraknya prosesi budaya dan pentas kethoprak yang sarat makna sejarah.  Bupati Pati, Sudewo, dan Wakil Bupati Risma Ardhi Chandra memimpin langsung rangkaian acara yang digelar di Kecamatan Wedarijaksa dan Kecamatan Winong pada Jumat malam (1/8).

Puncak acara adalah pengangkatan tradisi Parang Garudo dari Desa Godo, Kecamatan Winong,  sebuah momen bersejarah yang pertama kali diintegrasikan ke dalam agenda resmi peringatan Hari Jadi Pati.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
banner 336x280

Tradisi Parang Garudo, yang selama ini kurang terekspos, kini mendapat tempat istimewa dalam peringatan Hari Jadi Pati.  Bupati Sudewo dalam sambutannya menekankan pentingnya peran Parang Garudo dalam sejarah berdirinya Kabupaten Pati.

“Sebelum-sebelumnya, kita belum pernah mengadakan acara prosesi seperti ini di Desa Godo.  Namun, kali ini kita selenggarakan karena menyadari bahwa Parang Garudo merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah Kabupaten Pati,” tegasnya.

Lebih lanjut, Bupati menjelaskan bahwa sejarah Pati tak lepas dari dua tokoh legendaris, yaitu Parang Garudo di Pati Selatan dan Carang Soko di Pati Utara.  Perjuangan kedua tokoh inilah yang akhirnya melahirkan sosok pemersatu, Kembang Joyo, Adipati Pesantenan.  Kisah ini menjadi pelajaran berharga tentang persatuan, keikhlasan, dan kepemimpinan yang berpihak pada rakyat.

Prosesi budaya yang dikemas dalam pentas kethoprak ini bukan sekadar pertunjukan semata.  Acara ini dirancang sebagai wahana edukasi budaya bagi generasi muda dan masyarakat Pati agar lebih mengenal akar sejarah daerahnya.

Dengan mengangkat kisah Parang Garudo dan Carang Soko, Pemkab Pati ingin menanamkan nilai-nilai luhur seperti persatuan, keikhlasan, dan kepemimpinan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

Bagi masyarakat Pati, prosesi ini menjadi pengingat akan jati diri dan warisan sejarah yang harus dijaga dan dilestarikan.  Bupati Sudewo menegaskan bahwa penghormatan kepada para leluhur tidak hanya berhenti pada pentas seni.

“Penghormatan saya kepada Parang Garudo, Carang Soko, dan Kembang Joyo bukan hanya dengan pentas kethoprak.  Yang terpenting adalah saya harus menjadi bupati yang amanah dan membangun Kabupaten Pati demi kesejahteraan rakyat,” tandasnya.

Komitmen membangun Pati dengan sebaik-baiknya, menurut Bupati Sudewo, merupakan bentuk penghargaan tertinggi kepada para pendiri Kabupaten Pati.

Dengan menghidupkan kembali tradisi Parang Garudo, Pemkab Pati berharap dapat meningkatkan rasa cinta tanah air, melestarikan budaya lokal, dan mempererat persatuan masyarakat dalam membangun Pati yang lebih maju dan sejahtera.

Semoga langkah ini menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam melestarikan warisan budaya dan sejarahnya. (Aris)

Happy
Happy
0
Sad
Sad
0
Excited
Excited
0
Sleepy
Sleepy
0
Angry
Angry
0
Surprise
Surprise
0
banner 336x280
google.com, pub-1624475377454066, DIRECT, f08c47fec0942fa0