Dedikasi 16 Tahun Sirna: Nasib Pilu Tenaga Medis Sumenep, Gaji Rp2 Juta Lebih Kini Hanya Tersisa Rp350 Ribu

Dalam Negeri, News33 Dilihat
Views: 104
0 0
banner 468x60
Read Time:1 Minute, 39 Second

MokiNews.com, SUMENEP – Sebuah ironi dan kepiluan mendalam menyelimuti hati para tenaga kesehatan di Kabupaten Sumenep. Pengabdian yang dibaktikan selama belasan tahun seolah tak memiliki nilai, seiring dengan perubahan status kepegawaian yang membuat nasib mereka kini terguncang.

Mereka yang dulunya dikenal sebagai tenaga kontrak dengan dedikasi tinggi, kini harus menelan pil pahit setelah dialihkan statusnya menjadi PPPK Paruh Waktu. Perubahan ini bukan hanya soal nama, melainkan sebuah tamparan keras pada kesejahteraan mereka.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
banner 336x280

Dulu, dengan masa kerja yang telah mencapai 16 tahun, mereka bisa merasakan hasil jerih payah dengan penghasilan di atas Rp2.000.000 per bulan. Angka yang mungkin tidak seberapa bagi sebagian orang, namun cukup untuk menghidupi keluarga dan membiayai kebutuhan dasar.

Namun kini, segalanya berubah drastis. Gaji yang sempat menopang hidup mereka kini anjlok drastis menjadi hanya Rp350.000 per bulan.

Angka itu sungguh jauh dari kata layak. Bagaimana mungkin seorang tenaga medis yang setiap hari bergelut dengan nyawa pasien, bekerja keras di puskesmas maupun rumah sakit, harus menerima nominal yang bahkan mungkin tidak cukup untuk biaya transportasi dan makan sehari-hari saja?

Rasa kecewa dan sakit hati tentu tak terelakkan. Bagi mereka, pemotongan gaji ini bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan soal harga diri dan penghargaan.

“Selama 16 tahun kami mengabdi, mengabiskan masa muda dan tenaga untuk melayani masyarakat Sumenep. Tapi kini, rasanya pengabdian itu tidak dihargai sama sekali,” keluh salah satu tenaga kesehatan yang enggan disebutkan namanya, dengan nada suara yang terdengar getir.

Mereka merasa seperti “dibuang” setelah dianggap tak lagi berguna dengan status lama. Harapan akan kesejahteraan yang semakin baik seiring bertambahnya masa kerja, kini justru berubah menjadi mimpi buruk.

Nasib para tenaga medis Sumenep ini menjadi cermin pahitnya realita birokrasi. Di satu sisi, negara membutuhkan tenaga mereka untuk menjaga kesehatan rakyat, namun di sisi lain, nasib dan kesejahteraan mereka diperlakukan semena-mena.

Hanya ada satu harap yang tersisa dari para pahlawan kesehatan ini: semoga ada kebijakan yang berpihak pada mereka, dan pengabdian panjang mereka selama hampir dua dekade ini tidak dianggap sebagai angin lalu. (Min)

Happy
Happy
0
Sad
Sad
0
Excited
Excited
0
Sleepy
Sleepy
0
Angry
Angry
0
Surprise
Surprise
0
banner 336x280
google.com, pub-1624475377454066, DIRECT, f08c47fec0942fa0